Detikdki.online Di tengah sorotan publik terhadap kekayaan fantastis para pejabat daerah, nama Hendrik Lewerissa justru mencuri perhatian dari sisi yang berbeda. Ia disebut sebagai gubernur “termiskin” di Indonesia berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Namun di balik angka tersebut, tersimpan cerita tentang integritas, kesederhanaan, dan perjalanan panjang menuju kursi kepemimpinan.
Harta Rp2 Miliar: Jauh dari Citra Pejabat Mewah, Berdasarkan laporan resmi LHKPN yang disampaikan ke KPK pada Agustus 2024, total kekayaan Hendrik tercatat sekitar Rp2,09 miliar . Angka ini menjadikannya sebagai gubernur dengan kekayaan paling rendah dibandingkan kepala daerah lainnya di Indonesia .
Adapun Rincian kekayaannya meliputi Tanah dan bangunan: ± Rp2,3 miliar (7 aset di Jakarta, Ambon, dan Minahasa), Kendaraan: ± Rp629 juta (mobil dan motor),
Kas dan setara kas: ± Rp23 juta, Utang: ± Rp900 juta. Jika dibandingkan dengan gubernur lain yang memiliki kekayaan hingga ratusan miliar bahkan triliunan rupiah, angka ini tergolong sangat sederhana.
Sementara untuk Latar Belakangnya dari Dunia Hukum ke Politik dimana beliau Lahir di Ambon pada 2 Maret 1968, Hendrik memiliki latar belakang kuat di bidang hukum. Ia menempuh pendidikan di Universitas Pattimura dan melanjutkan studi hukum hingga ke Amerika Serikat. Perlu di ketahui Kariernya dimulai sebagai staf administrasi, lalu berkembang menjadi Advokat, Konsultan hukum di perusahaan energi, Penasehat hukum di sektor pertambangan. Masuk ke dunia politik, ia bergabung dengan Partai Gerindra dan menjadi tokoh penting di Maluku. Ia kemudian terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2019–2024 sebelum akhirnya memenangkan Pilkada Maluku 2024 .
Dalam Pilkada Maluku 2024, Hendrik berhasil meraih suara terbanyak dan resmi menjabat sebagai Gubernur Maluku sejak 20 Februari 2025. Menariknya, pada saat pelantikan yang sama, publik juga menyoroti kontras mencolok antara dirinya dan gubernur lain terutama Sherly Tjoanda yang dikenal sebagai gubernur terkaya di Indonesia .
Kalimat“Termiskin” yang Jadi Simbol Kesederhanaan, Label “termiskin” seringkali disalahartikan. Dalam konteks Hendrik Lewerissa, angka kekayaan yang relatif kecil justru mencerminkan Gaya hidup sederhana,
Minim keterlibatan dalam bisnis besar, dan fokus pada karier profesional dan politik
Banyak pihak menilai bahwa kondisi ini memperkuat citra dirinya sebagai pemimpin yang lebih dekat dengan rakyat dan tidak terjebak dalam gaya hidup elit.
Transparansi Pelaporan harta kekayaan secara terbuka menjadi indikator penting dalam menilai integritas seorang pejabat publik. Hendrik dinilai telah menunjukkan komitmen terhadap transparansi dengan melaporkan seluruh asetnya secara jelas .
Namun, tantangan ke depan tidak ringan. Sebagai Gubernur Maluku, ia dihadapkan pada berbagai isu strategisl yaitu Pembangunan ekonomi daerah kepulauan, Infrastruktur dan konektivitas antar pulau, serta Pengentasan kemiskinan dan ketimpangan. Di sinilah publik menaruh harapan besar bahwa kesederhanaan yang ia miliki akan berbanding lurus dengan keberpihakan pada rakyat.
Kisah Hendrik Lewerissa menunjukkan bahwa kekayaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pemimpin. Dengan total harta sekitar Rp2 miliar, ia mungkin menjadi gubernur “termiskin” secara angka, tetapi justru memiliki modal penting lain: pengalaman, integritas, dan kepercayaan publik. Dalam lanskap politik yang sering dikaitkan dengan kekayaan besar, kehadirannya menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar yang bisa diberikan.
Redaksi//
Detikdki.online
Ellon




















