SEMUA AKAN TIBA PADA WAKTUNYA atau SEMUA AKAN MADAS PADA WAKTUNYA 

REDKSI DETIK DKI

- Redaksi

Minggu, 5 April 2026 - 18:58 WIB

5015 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikdki.online Sudah lama rasanya saya tidak membuat tulisan di FB ini hari ini dengan penuh kehati-hatian dan perenungan yang sangat mendalam saya memulai mengetik dengan hati yang tenang. Ketika Fitnah, Kekuasaan, dan Media Sosial Bertemu—dan Kebenaran Menemukan Jalannya**

Semua akan tiba pada waktunya.

Kebenaran tidak pernah terburu-buru, tetapi ia tidak pernah tersesat. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk berdiri, menampakkan wajahnya, dan mematahkan seluruh kebohongan yang dibangun di atas kepentingan.

Dalam kurun satu bulan terakhir—sejak akhir 2025 hingga awal 2026—ruang publik Indonesia diguncang oleh badai informasi yang luar biasa. Media sosial dipenuhi narasi viral, opini yang saling bertabrakan, dan emosi kolektif yang diprovokasi secara masif. Satu nama terus diulang, diangkat, dan dipelintir: MADAS.

Isu ini tidak lagi berhenti di level lokal. Ia menjalar ke tingkat nasional, bahkan internasional. Namun yang disebarkan bukanlah fakta yang utuh, melainkan potongan-potongan narasi yang dirangkai untuk membangun stigma. Media sosial berubah dari ruang dialog menjadi ruang pengadilan. Vonis dijatuhkan lebih cepat daripada klarifikasi.

Semua bermula dari pernyataan seorang pejabat publik, Armuji, yang kemudian berkembang liar di ruang digital. Pernyataan tersebut ditafsirkan secara sepihak, diproduksi ulang tanpa konteks, dan diarahkan seolah-olah menjadi legitimasi untuk menyerang satu kelompok masyarakat. Dari sinilah kegaduhan dimulai.

Narasi kemudian diarahkan ke satu tujuan: membangun persepsi bahwa MADAS adalah sumber masalah. Isu tambang, isu kekerasan, isu penguasaan wilayah—semuanya dilekatkan tanpa dasar yang jelas. Publik tidak lagi diajak berpikir, melainkan digiring untuk membenci.

Puncaknya terjadi pada tanggal 26, ketika kerusuhan pecah di Surabaya. Kantor MADAS dirusak. Aksi massa terjadi. Emosi meledak. Namun ironisnya, korban justru kembali disalahkan. Fitnah menemukan momentumnya. Kekacauan dijadikan pembenaran.

Alih-alih mereda, situasi justru dipelihara. Selama berminggu-minggu berikutnya, media sosial terus memproduksi kegaduhan. Trending topic dipertahankan. Akun-akun anonim dan buzzer bekerja tanpa henti. Stigma diperkuat. Identitas dipertentangkan. Seolah-olah konflik ini harus terus hidup agar ada pihak-pihak tertentu yang diuntungkan.

Di tengah badai itu, pada tanggal 5, Ketua Umum MADAS mengambil langkah yang konstitusional dan bermartabat. Ia melaporkan dugaan tindak pidana Undang-Undang ITE ke Polda Jawa Timur terhadap akun media sosial bernama Cak J1. Ini bukan ancaman. Bukan intimidasi. Ini adalah ikhtiar hukum untuk menghentikan fitnah yang telah melampaui batas.

Namun sekali lagi, kebenaran tidak diberi ruang.

Langkah hukum tersebut justru dipelintir. Muncul narasi baru yang lebih berbahaya: seolah-olah pemerintah dan Kota Surabaya “takut” terhadap MADAS. Opini publik kembali dirusak. Negara hukum digambarkan kalah oleh tekanan ormas. Ini framing yang keji dan menyesatkan.

Tanggal 6, Armuji menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media. Permintaan maaf yang sejatinya dimaksudkan untuk meredakan ketegangan justru dijadikan bahan bakar baru. Netizen semakin liar. Komentar-komentar pedas bermunculan. Pemerintah dipermalukan. Aparat dilemahkan. Kepercayaan publik dihancurkan oleh narasi yang sengaja dipelintir.

Situasi semakin keruh ketika rencana penyegelan yang dijadwalkan pada 12 Januari 2026 mengalami penundaan melalui proses pengadilan. Penundaan yang bersifat prosedural dan legal kembali disulap menjadi isu politis. Media sosial kembali meledak. Seolah-olah hukum harus tunduk pada tekanan viral, bukan pada aturan.

Di titik inilah peran akun-akun provokatif semakin nyata. Nama-nama seperti F, D, dan P, serta kanal Viral for Justice, secara konsisten memproduksi narasi yang mempertajam konflik. Surabaya dipertentangkan dengan Madura. Pemerintah diadu dengan rakyat. Emosi dikapitalisasi. Namun pada akhirnya bersatu dengan MADAS

Padahal, faktanya sederhana: tidak pernah ada permusuhan antara Surabaya dan Madura. Yang ada hanyalah upaya sistematis untuk mengadu domba.

Dan seperti semua kebohongan besar dalam sejarah, skenario ini pun mulai runtuh oleh kesadaran publik. Masyarakat perlahan menyadari bahwa mereka sedang dimainkan. Bahwa konflik ini bukan tentang kebenaran, melainkan tentang kepentingan. Dari sinilah arah sejarah berbalik.

Yang terjadi bukan perpecahan, melainkan perangkulan.

Bukan permusuhan, melainkan persatuan.

Bukan kehancuran, melainkan kedewasaan.

Inilah perjuangan MADAS yang sesungguhnya. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan amarah. Tetapi dengan kesabaran, hukum, dan keyakinan bahwa kebenaran tidak perlu berteriak untuk menang.

Karena pada akhirnya, semua akan indah pada waktunya. Dan bagi mereka yang teguh berdiri dalam martabat dan persaudaraan: semua akan menjadi MADAS pada waktunya. Surabaya, 13 januari 2026 Bung Taufik

Redaksi//

Detikdki.online

(Aziz)

Berita Terkait

ANNIVERSARY KE-26 LMP BANYUWANGI, PERKUAT SOLIDARITAS, NASIONALISME
Novi Marzani: Kalau Data Korupsi BUMD Rp30 Miliar Tidak Valid, Saya Tuntut Balik Ketua Fortuba!
Sebuah usaha rias pengantin di kawasan pemukiman warga di desa ngancar, kecamatan pitu , Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, 
LUAR BIASA BAPAK KADES ABDI  INI BISA NGASIH JAMSOSTEK  KEPADA MASYARAKAT TREWUNG 
Muswil Ke-I PERADAN Banyuwangi Digelar, Penguatan Profesi Advokat Jadi Sorotan.
Plt. Kades Sidokepung kecamatan Buduran Kab. Sidoarjo dilaporkan ke KEJARI Sidoarjo atas Dugaan korupsi dana Penyalahgunaan wewenang jabatan Dana BK ( Bantuan Keuangan ) Rp1 Milyar tahun anggaran 2025
Enam Bulan Somasi Tak Digubris, H. Marsudi Bersama Warga Segel Pintu Masuk Tower di Tanjung Bumi
Pastikan Tepat Sasaran, Ketua Komisi II DPRD Tulang Bawang Gelar Sidak di SPBU BUMD

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 22:03 WIB

Kapolres Probolinggo Terima Audiensi MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun), Klarifikasi Kericuhan Pantura dan Tegaskan Dukungan Penegakan Hukum

Senin, 2 November 2026 - 22:03 WIB

DPD MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun) Jatim Angkat Sikap soal Kericuhan Probolinggo, Serahkan Penanganan Sepenuhnya kepada Polres Probolinggo

Senin, 2 November 2026 - 22:02 WIB

Kericuhan Pantura Berdampak pada Citra Organisasi, MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun) Tegaskan Sikap dan Sampaikan Klarifikasi

Senin, 2 November 2026 - 22:02 WIB

Gelar Audiensi dengan Kapolres Probolinggo, MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun) Tegaskan Komitmen Jaga Kamtibmas dan Bantah Keterlibatan dalam Kericuhan yang Terjadi Pada Rabu Malam (28/10)

Senin, 2 November 2026 - 18:00 WIB

Kapolres Probolinggo Terima Audiensi Ormas MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun), Dukung Penuh Penegakan Hukum dan Kamtibmas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:07 WIB

POLRES PROBOLINGGO LURUSKAN ISU PENANGKAPAN ANGGOTA KELOMPOK MASYARAKAT, TEGASKAN HANYA DILAKUKAN KLARIFIKASI

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Dari Mitigasi hingga Kesiapsiagaan, FPRB Kota Probolinggo Bangun Komunikasi dengan Kodim 0820

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Polres Probolinggo Kota Kukuhkan Kepengurusan Da’i Kamtibmas, Perkuat Sinergi Polisi Dan Tokoh Agama Jaga Kondusivitas

Berita Terbaru