Menara SUTET di Ujung Tebing, Ketika Negara Berdebat Diksi di Tengah Ancaman Blackout Jawa–Bali 

REDKSI DETIK DKI

- Redaksi

Sabtu, 18 April 2026 - 07:08 WIB

5014 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikdki.online Oleh: Adv. Mujiono, S.H., M.H.* Ancaman terhadap menara SUTET jalur interkoneksi Jawa–Bali di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, bukan lagi isu lingkungan biasa. Ini adalah alarm serius terhadap keselamatan infrastruktur energi strategis nasional. Namun yang muncul ke permukaan justru bukan tindakan hukum cepat—melainkan perdebatan soal pilihan kata “mendesak”. Di sinilah publik berhak bertanya, negara hadir atau menunggu tower roboh lebih dulu?

Temuan lapangan bahwa aktivitas galian C ilegal berada sangat dekat dengan struktur SUTET penghubung Jawa–Bali. Jika benar jarak tersebut telah memasuki radius risiko geoteknis pondasi tower, maka persoalannya tidak lagi administratif—melainkan ancaman keselamatan sistem ketenagalistrikan regional. Dalam hukum ketenagalistrikan, keselamatan instalasi transmisi bukan wilayah kompromi. Itu wilayah larangan. Itu wilayah pidana.

Infrastruktur Energi Bukan Objek Negosiasi Sosial Undang-Undang Ketenagalistrikan menempatkan instalasi transmisi sebagai bagian dari sistem strategis yang wajib dilindungi. Menara SUTET bukan sekadar tiang listrik tinggi. Ia adalah tulang punggung distribusi energi lintas wilayah.

Gangguan pada satu tower saja berpotensi memicu pemadaman regional, gangguan industri, kerusakan sistem interkoneksi serta kerugian ekonomi negara. Ketika aktivitas tambang ilegal mendekati struktur pondasi tower, maka secara hukum telah muncul potensi gangguan terhadap keselamatan instalasi tenaga listrik. Dalam konteks ini, negara tidak sedang menghadapi konflik ekonomi lokal. Negara sedang menghadapi ancaman terhadap stabilitas energi publik.

Illegal Mining Bukan Persoalan Interpretasi Undang-Undang Minerba sudah sangat jelas. Penambangan tanpa izin adalah tindak pidana, tidak ada ruang tafsir tambahan dan tidak ada ruang kompromi administratif. Tidak ada ruang menunggu pembentukan Satgas baru.

Jika aktivitas galian C di Ngoro terbukti tidak memiliki IUP, IPR atau SIPB, maka secara hukum unsur tindak pidana illegal mining telah terpenuhi secara formil. Penegakan hukum tidak membutuhkan framing baru.Penegakan hukum hanya membutuhkan keberanian menjalankan norma yang sudah ada.

Ketika Risiko Infrastruktur Strategis Dijawab dengan Perdebatan Diksi Ironisnya, beberapa orang waktu yang lalu, Kapolres Mojokerto memilih tidak menandatangani nota kesepakatan bersama mahasiswa karena keberatan terhadap penggunaan kata “mendesak”. Secara komunikasi publik, ini problem serius. Karena dalam situasi ancaman terhadap infrastruktur strategis nasional, yang dibutuhkan bukan sensitivitas semantik—melainkan ketegasan tindakan.

Publik tidak meminta retorika, publik meminta perlindungan. Ketika aktivitas tambang mendekati struktur transmisi listrik Jawa–Bali, respons yang relevan secara hukum adalah penghentian kegiatan, pengamanan zona tower, penyelidikan pidana bukan diskursus pilihan kata.

Satgas Itu Penting, Tetapi Tidak Bisa Menggantikan Penegakan Hukum Pendekatan lintas sektor melalui Satgas memang penting untuk penataan jangka panjang. Namun Satgas bukan prasyarat penegakan hukum. Satgas adalah instrumen koordinasi.

Bukan instrumen legitimasi awal tindakan. Illegal mining tidak membutuhkan Satgas terlebih dahulu untuk dihentikan. Karena, normanya sudah ada apalagi larangannya sudah jelas, sanksinya sudah tersedia dan kewenangan aparat sudah lengkap.

Jika aktivitas tambang ilegal berada dekat instalasi SUTET, maka penghentian kegiatan justru merupakan langkah pencegahan minimum yang wajib dilakukan negara. Menunggu struktur Satgas selesai dibentuk justru berpotensi memperbesar risiko kerusakan sistem energi.

Ini Bukan Lagi Isu Lingkungan Lokal Banyak kasus galian C dipersepsikan sebagai konflik ekonomi masyarakat versus regulasi negara. Tetapi kasus Ngoro berbeda, karena variabelnya bukan sekadar kerusakan lahan. Variabelnya adalah stabilitas sistem transmisi listrik Jawa–Bali

Jika benar pondasi tower terancam akibat perubahan kontur tanah di sekitar lokasi tambang, maka peristiwa ini berpotensi masuk kategori ancaman terhadap keselamatan instalasi ketenagalistrikan, yang secara hukum dapat menimbulkan konsekuensi pidana berlapis.

Dalam situasi seperti ini, pendekatan sosial-ekonomi tidak boleh menggantikan pendekatan keselamatan infrastruktur. Keselamatan sistem energi nasional selalu berada di urutan pertama.

Negara Tidak Boleh Terlihat Ragu Ketika Infrastruktur Strategis Terancam

Pernyataan bahwa aparat “berada di barisan yang sama” dengan masyarakat tentu patut diapresiasi. Namun dalam praktik penegakan hukum, publik tidak mengukur keberpihakan dari pernyataan.

Publik mengukur keberpihakan dari tindakan. Jika aktivitas galian C ilegal benar berada dalam radius risiko tower SUTET, maka negara wajib menghentikan aktivitas, mengamankan zona struktur, melakukan investigasi teknis cepat dan memproses pelanggaran pidana jika terbukti ada unsur illegal mining.

Karena jika menara SUTET benar-benar roboh suatu hari nanti, maka yang runtuh bukan hanya tower baja setinggi puluhan meter. Yang runtuh adalah kepercayaan publik terhadap kehadiran negara dalam melindungi infrastruktur strategisnya sendiri.  *Penulis adalah Pengamat Hukum dan Advokat pada Firma Hammurabi & Partners

Redaksi//

Detikdki.online

Investigasi

Berita Terkait

ANNIVERSARY KE-26 LMP BANYUWANGI, PERKUAT SOLIDARITAS, NASIONALISME
Novi Marzani: Kalau Data Korupsi BUMD Rp30 Miliar Tidak Valid, Saya Tuntut Balik Ketua Fortuba!
Sebuah usaha rias pengantin di kawasan pemukiman warga di desa ngancar, kecamatan pitu , Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, 
LUAR BIASA BAPAK KADES ABDI  INI BISA NGASIH JAMSOSTEK  KEPADA MASYARAKAT TREWUNG 
Muswil Ke-I PERADAN Banyuwangi Digelar, Penguatan Profesi Advokat Jadi Sorotan.
Plt. Kades Sidokepung kecamatan Buduran Kab. Sidoarjo dilaporkan ke KEJARI Sidoarjo atas Dugaan korupsi dana Penyalahgunaan wewenang jabatan Dana BK ( Bantuan Keuangan ) Rp1 Milyar tahun anggaran 2025
Enam Bulan Somasi Tak Digubris, H. Marsudi Bersama Warga Segel Pintu Masuk Tower di Tanjung Bumi
Pastikan Tepat Sasaran, Ketua Komisi II DPRD Tulang Bawang Gelar Sidak di SPBU BUMD

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 22:03 WIB

Kapolres Probolinggo Terima Audiensi MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun), Klarifikasi Kericuhan Pantura dan Tegaskan Dukungan Penegakan Hukum

Senin, 2 November 2026 - 22:03 WIB

DPD MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun) Jatim Angkat Sikap soal Kericuhan Probolinggo, Serahkan Penanganan Sepenuhnya kepada Polres Probolinggo

Senin, 2 November 2026 - 22:02 WIB

Kericuhan Pantura Berdampak pada Citra Organisasi, MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun) Tegaskan Sikap dan Sampaikan Klarifikasi

Senin, 2 November 2026 - 22:02 WIB

Gelar Audiensi dengan Kapolres Probolinggo, MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun) Tegaskan Komitmen Jaga Kamtibmas dan Bantah Keterlibatan dalam Kericuhan yang Terjadi Pada Rabu Malam (28/10)

Senin, 2 November 2026 - 18:00 WIB

Kapolres Probolinggo Terima Audiensi Ormas MADAS (Madura Asli Daerah Anak Serumpun), Dukung Penuh Penegakan Hukum dan Kamtibmas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:07 WIB

POLRES PROBOLINGGO LURUSKAN ISU PENANGKAPAN ANGGOTA KELOMPOK MASYARAKAT, TEGASKAN HANYA DILAKUKAN KLARIFIKASI

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Dari Mitigasi hingga Kesiapsiagaan, FPRB Kota Probolinggo Bangun Komunikasi dengan Kodim 0820

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Polres Probolinggo Kota Kukuhkan Kepengurusan Da’i Kamtibmas, Perkuat Sinergi Polisi Dan Tokoh Agama Jaga Kondusivitas

Berita Terbaru